Kamis, 19 Juli 2018

Teknik Jalan Raya 1

Lajur tanah yang disediakan khusus untuk sarana/ prasarana perhubungan darat yang dibuat sedemikian rupa untuk melayani kelancaran arus lalu lintas disebut juga dengan Jalan Raya. Sarana prasarana perhubungan tersebut meliputi semua bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukan bagi pelayanan arus lalu lintas, guna untuk memindahkan orang dan barang dari suatu tempat ke tempat lain.


Lalu lintas sendiri dapat didefinisikan sebagai semua gerakan jenis pemakai jalan yang terdiri dari manusia pejalan kaki, semua alat pengangkut yang digerakan oleh manusia dan hewan. Kelancaran lalu lintas di jalan raya sangat dipengaruhi oleh tingkat kemampuan pelayanan yang dapat diberikan oleh setiap bagian jalan raya tersebut, antara lain oleh lebar jalan dan jumlah jalur. Pada keadaan sekaran ini dapat dilihat bahwa kepadatan lalu lintas menjadi semakin tinggi dan tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh bagian-bagian jalan raya semakin rendah.

Klasifikasi dan spesifikasi suatu jalan raya dapa ditetapkan jika terdapat kesesuaian antara kepadatan lalu lintas. Klasifikasi dan spesifikasi tersebut sangat berguna dan dapat memberikan kejelasan mengenai tingkat kepadatan lalu lintas yang perlu dilayani oleh setiap bagian-bagian jalan. Klasifikasi dan spesifikasi jalan raya dapat dibedakan menurut fungsi pelayanannya, menurut kelas jalan, menurut keadaan topografi, penggolongan layanan administrasi dan menurut jenis-jenis jalan raya.

Sistematika Penulisan Tugas Terstruktur Teknik Jalan Raya 1. Dalam penyajiannya sebagai tugas mata kuliah jalan raya I, dibahas dan dijelaskan dengan sistematika penulisan seperti berikut ini :

BAB I. PENDAHULUAN : Membahas latar belakang, tujuan penulisan, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan.


BAB II. SEJARAH PERKEMBANGAN JALAN DAN GEOMETRIK JALAN RAYA : Membahas sejarah perkembangan jalan dan teori geometrik jalan raya.

BAB III. PEMATOKAN/ STAKE OUT Membahas bagaimana pematokan garis lurus, pematokan lengkung horisontal dan pematokan lengkung vertikal.

BAB IV. KELAYAKAN TEKNIS ALIGNMENT VERTIKAL : Menghitung panjang horisontal trase, beda tinggi titik titik trase jalan, menghitung kelandaian arah memanjang, menghitung panjang kritis jalan, menghitung interpolasi panjang kritis dari tabel kelandaian.

BAB V. KELAYAKAN TEKNIS ALIGNMENT HORISONTAL : Menghitung sudut jurusan, menghitung sudut intersection pada Point Of Intersection, pemilihan kelas jalan.

BAB VI. PERHITUNGAN ALIGNMENT HORISONTAL : Merencanakan dan menghitung lengkung horisontal yang meliputi perencanaan dan perhitungan tikungan serta pelebaran tikungan.

BAB VII. PERHITUNGAN ALIGNMENT VERTIKAL Merencanakan dan menghitung jarak pandangan yang meliputi jarak pandang henti dan jarak pandang menyiap.

BAB VIII. PERHITUNGAN SALURAN SAMPING : Perencanaan dimensi saluran samping dari data curah hujan tahunan yang diperoleh.

BAB IX PERHITUNGAN GALIAN DAN TIMBUNAN : Perhitungan volume galian dan timbunan dengan metode cross section.

BAB X PERHITUNGAN PEMATOKAN/ STACKING OUT : Perhitungan pematokan/ stacking out dengan cara selisih busur dan absis dan orsinat.

BAB XI PENUTUP : kesimpulan dan saran.

TEKNIK GEMPA

Teknik Gempa

Studi Mekanik Gempa Bumi Dengan menggunakan Global PositioningSystem (GPS)
Dengan adanya fakta, maka langkah pemantauan potensi dan usahamitigasi bencana jelas penting sekali untuk dilakukan, sehingga diharapkanefek negatif yang dapat ditinggalkan oleh bencana tersebut dapat direduksi.Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pemantauan potensi danmitigasi bencana alam gempa bumi yaitu melalui penelitian serta analisismekanisme siklus dan tahapan gempa bumi. Siklus gempa bumi (earthquakecycle) didefinisikan sebagai perulangan gempa. Satu siklus dari gempa bumiini biasanya berlangsung dalam kurun waktu puluhan sampai ratusan tahun.Dalam satu siklus gempa bumi terdapat beberapa mekanisme tahapanterjadinya gempa bumi, diantaranya yaitu tahapan interseismic, pre-seismic,co-seismic, dan post-seismic [Mori (2004), Vigny (2004), Ando (2005), Natawidjaja (2004)]Bentuk analisis siklus gempa bumi dilakukan dengan cara menelitidokumen sejarah kejadian gempa bumi, dan penelitian-penelitian geologi,geofisika seperti stratigrafi batuan, terumbu karang (coral microattols), paleo-tsunami, paleo-likuifaksi, dan lain-lain. Sementara itu bentuk analisis tahapangempa bumi dilakukan dengan cara melihat dan meneliti fenomena-fenomenayang menyertai tahapan gempa bumi seperti deformasi, seismisitas, informasi pengukuran geofisika (reseistivitas elektik, pengamatan muka dan temperatur air tanah), dan lain-lain. [Mori (2004), Vigny (2004; 2005), Ando (2005), Natawidjaja (2004)].
Studi Mekanisme Gempa Bumi Aceh 2004 dengan GPS.
Untuk melihat mekanisme dari gempa bumi Aceh 2004 dapatdilakukan salah satunya dengan memanfaatkan teknologi Global PositioningSystem (GPS). Data GPS dapat dengan baik melihat deformasi yangmengiringi tahapan mekanisme terjadinya Gempa Bumi. Studi mengenaitahapan mekanisme gempa ini akan sangat berguna dalam melakukan evaluasi potensi Bencana Alam gempa bumi, untuk memperbaiki upaya mitigasidimasadatang.Data GPS yang digunakan dalam penelitian mekanisme gempa Acehini diantaranya yaitu data GPS hasil dari program SEAMERGES yang telahmengumpulkan data-data GPS dari lebih 60 stasiun titik pengamatan yang berkaitan dengan pergerakan lempeng di Asia Tenggara dan data-data GPSyang berkaitan dengan gempa Aceh 2004 dan Gempa Nias 2005. Sebagiandata berupa data kontinyu, dan sebagian lagi berupa data campaign.Kemudian pada bulan Februari dan Maret 2005, ITB bekerjasama dengan Nagoya Univerisity, BPPT, LIPI, dan Universitas Syiah Kuala mengadakankerjasama penelitian Near field co-seismic dan post-seismic gempa yangterjadi di Aceh, dan Near Field co-sesimic gempa Nias dengan menggunakanteknologi GPS. Pekerjaan survai dilakukan masing-masing selama kuranglebih 10 hari dengan memantau titik-titik benchmark yang dulu di bangunoleh BPN dan BAKOSURTANAL. Selain itu pada survei lapangan juga di pasang titik-titik baru guna pemantauan pergerakan tanah di sekitar Aceh pasca gempa bumi 2004. Di bawah ini diberikan foto-foto yang diambil darikegiatan survey lapangan di daerah Lok Nga di Pantai Barat Aceh, dan Siglidi pantai Utara Aceh.
https://html2-f.scribdassets.com/kj7r55ts027fxgj/images/10-429a540e3d.jpghttps://html2-f.scribdassets.com/kj7r55ts027fxgj/images/10-429a540e3d.jpghttps://html2-f.scribdassets.com/kj7r55ts027fxgj/images/10-429a540e3d.jpghttps://html2-f.scribdassets.com/kj7r55ts027fxgj/images/10-429a540e3d.jpg
 9Analisis tahapan InterseismicDari hasil pengolahan data interseismic dapat disimpulkan bahwaakumulasi deformasi pada tahapan interseismic di sekitar wilayah Acehternyata cukup besar sebelum terjadinya gempa bumi di akhir tahun 2004, danapabila kita sebelumnya menyadari akan hal tersebut maka bukan tidak mungkin kita dapat melakukan bentuk mitigasi bencana yang lebih baik lagi.Kemudian apabila kita tengok hasil pemodelan block rotation (solusigeodessya 1999 dalam vigny 2005) di daerah Sumatera, kita bisa melihatindikasi deformasi yang cukup besar di daerah Sumatera bagian utara apabiladi bandingkan dengan bagian selatan-nya.
Indikasi “high” deformasi
dimungkinkan karena terdapatnya area wide coupling di sekitar zona subduksitersebut. Area wide coupling ini dimungkinkan oleh pola sudut kemiringandangkal yang menyusun zona subduksi Sumatera bagian utara. Sementara itumakin ke selatan sudut kemiringan-nya membesar.Analisis tahapan Pre-seismicPengolahan data pre-seismic signal, dilakukan dengan menggunakan dataGPS kontinyu yang terletak di daerah paling dekat dengan episenter gempa,yaitu GPS di stasiun Sampali Sumatera Utara, dan stasiun Phuket Thailand.Sinyal yang dicoba dilihat adalah sinyal pre-seismic deformasi, dankarakteristik ionosfer pada gempa Aceh 2004. Berdasarkan hasil penelitian pre-seismic signal deformasi dari gempa Aceh- 2004 ternyata tidak ditemukanadanya bentuk anomali deformasi berupa akselerasi deformasi. Hasil pengolahan data GPS daily solution di stasiun Sampali selama 15 harisebelum terjadinya gempa di Aceh tidak menunjukkan adanya akselerasideformasi. Kumpulan nilai koordinat daily solution hanya berubah dalamfraksi mili saja. Sementara itu hasil pengolahan data GPS daily solution distasiun Phuket selama 15 hari sebelum terjadinya gempa di Aceh juga tidak menunjukkan adanya akselerasi deformasi. Kumpulan nilai koordinat dailysolution di titik Phuket juga hanya berubah dalam fraksi mili saja. Berbedahalnya kalau kita lihat hasil pengolahan data 15 hari setelah gempa di titik 
https://html1-f.scribdassets.com/kj7r55ts027fxgj/images/11-24c46c04ad.jpghttps://html1-f.scribdassets.com/kj7r55ts027fxgj/images/11-24c46c04ad.jpg
 10Sampali dan Phuket, masing-masing dengan jelas menunjukkan sinyaldeformasi post-seismic.Analisis tahapan CoseismicBerdasarkan hasil perhitungan, besarnya co-seismic deformation akibatgempa Aceh 2004 di beberapa titik pantau near field adalah sebagai berikut:titik Banda Aceh terdeformasi 2.4 meter, titik pulau Sabang telah terdeformasi1.8 meter, Sigli mengalami deformasi 70 centimeter, titik Meulabohterdeformasi 1.9 meter dan Lok Nga terdeformasi sebesar 2.7 meter.Sementara itu co-seismic deformation di beberapa titik pantau far field adalahsebagai berikut: titik Phuket Thailand terdeformasi sebesar 27 sentimeter, titik Langkawi Malaysia terdeformasi sebesar 17 sentimeter, dan titik SampaliSumatera Utara terdeformasi 15 sentimeter.Dari hasil co-seismic deformation gempa Aceh 2004, kita kemudian membuatmodel co-seismic slip (pergeseran pada bidang sesar) dengan menggunakanformula elastic half space modeling (Okada 1999). Input parameter utamayaitu vektor co-seismic deformation, parameter sekundernya diantaranyakonstanta rigiditas, kemudian beberapa parameter untuk pendekatan model(apriori model) yaitu geometri bidang sesar (panjang dan lebar bidang sesar),serta informasi sudut kemiringan bidang sesar. Pendekatan nilai sudutkemiringan diperoleh dari plotting vertikal gempa susulan (aftershock).Informasi co-seismic slip gempa Aceh yang dibuat, dapat digunakan dalammelihat mekanisme release energi, kemudian perhitungan besar energi, sertamekanisme transfer energy (stress transfer) yang berguna dalam hal evaluasi potensi gempa.Analisis Post-SeismicPost-seismic pada gempa Aceh 2004 dimulai tepat setelah berakhirnyadeformasi elastis pada tahapan co-seismic. Nilai deformasi bertambah sebesar 4 sentimeter dalam kurun waktu 15 hari di stasiun PHKT (Phuket Thailand).Rekaman sinyal post-seismic menunjukan pola eksponensial sesuai denganhukum omori mengenai tahapan ini. Nilai deformasi di stasiun PHKT (Phuket
 11Thailand) setelah 50 hari dari waktu kejadian gempa mencapai 34 cm, dannilai ini cukup signifikan, mencapai 1.25 kali nilai deformasi yang diberikantahapan co-seismic. Sementara itu stasiun GPS yang dipasang kontinyu diUniversitas Syah Kuala Banda Aceh menunjukkan nilai deformasi post-seismic sebesar 15 sentimeter setelah 90 hari pengamatan. Deformasi post-seismic ini dapat terjadi bertahun-tahun lamanya.Seperti telah disebutkan di atas bahwa studi mengenai tahapan mekanismegempa ini akan sangat berguna dalam melakukan evaluasi potensi BencanaAlam gempa bumi, untuk memperbaiki upaya mitigasi di masa datang.Setelah melihat mekanisme fase gempa bumi di Aceh 26 Desember 2004ditambah dengan informasi penelitian siklus gempa bumi, dan penelitianlainnya, maka kita dapat melakukan evaluasi potensi gempa bumi di masayang akan datang di sekitar zona subduksi Sumatera pasca terjadinya gempa besar tersebut.
2.6. Prediksi Gempa Bumi
Prediksi dengan peralatan dan metode ilmiah* Pengetahuan tentang zona seismic dan daerah beresiko yang dipelajarilewat studi dampak historis dan lempeng tektonik * Memonitor

PONDASI

 Pengertian Pondasi dan Jenis-jenis Pondasi

Pengertian Pondasi yang dimaksud disini adalah suatu jenis kontruksi yang menjadi dasar dan pondasi ini berfungsi sebagai penopang bangunan yang ada di atasnya dan ini bertujuan untuk diteruskan secara bertahap dan merata ke lapisan tanah. Namun terdapat juga pengertian pondasi yang lain yang mengatakan bahwa pondasi adalah kontruksi yang telah diperhitungkan sebaik mungkin sehingga hal ini dapat menjamin keseimbangan dan kestabilan bangunan terhadap berat yang akan dibebankan pada pondasi tersebut. Setelah kita mengetahui pengertian dari pondasi tersebut, mari kita lihat Jenis-jenis Pondasi yang perlu diketahui. Mengapa hal ini begitu penting bagi Anda ? Mungkin Anda adalah seorang developer yang ingin membangun rumah atau ruko di tanah yang telah Anda beli sebagai contoh tanah kavling tentu jenis-jenis pondasi tersebut perlu Anda ketahui. Hal ini pastinya perlu menjadi pengetahuan Anda jika Anda memiliki tanah yang ingin Anda jual.
Jenis-jenis Pondasi
1. Pondasi Tiang Pancang
jenis pondasi tiang pancang
Pondasi tiang pancang memiliki pengertian seperti biasanya dipergunakan untuk jenis-jenis tanah yang lembek, tanah yang berawa dengan jenis kondisi daya dukung tanah yang kecil. Jika Anda menjual tanah yang lembek maka konsumen harus diberi edukasi terhadap tanah tersebut. Mungkin Anda bisa merekomendasi website ini untuk menjadi bahan pengetahuan bagi konsumen Anda. Sehingga jenis ponasi tiang pancang merupakan suatu jenis kontruksi pondasi yang memiliki kekuatan untuk menahan gaya orthogonal ke sumbu tiang dengan jalan lenturan yang menyerap.
2. Pondasi Batu Kali
jenis pondasi batu kali
Pondasi tiang batu kali merupakan jenis pondasi yang digunakan untuk jenis-jenis bangunan yang sederhana, biasanya jenis pondasi ini digunakan untuk jenis bangunan yang berlantai satu, dimana tanah tersebut merupakan jenis kondisi yang keras yang terletak sangat dekat ditambah lagi tanah tersebut susah digali karena kondisinya berbatuan.
3. Pondasi Batu Bata
jenis pondasi batu bata
Jenis Pondasi Batu Bata ini memiliki persamaan dengan jenis pondasi batu kali, dimana pondasi ini biasanya digunakan untuk jenis-jenis bangunan berlantai satu, dimana tanah yang menggunakan jenis pondasi ini adalah jenis tanah yang keras. Untuk melihat contoh jenis pondasi ini bisa dilihat gambar di bawah ini.
4. Pondasi Telapak
jenis pondasi telapak
Pondasi Telapak apa itu pondasi telapak ? Pondasi telapak merupakan pondasi yang sering digunakan untuk bangunan-bangunan yang bertingkat. Jenis pondasi telapak ini yang digunakan pada jenis-jenis bangunan yang sederhana misalnya jenis bangunan yang satu lantai. Karena jenis pondasi satu lantai bisa menggunakan jenis pondasi seperti batu kali atau batu bata.
5. Pondasi Sumuran
jenis pondasi sumuran
Pondasi sumuruan ini merupakan salah satu dari jenis pondasi yang seriing digunakan untuk jenis bangunan yang bertingkat. Jenis ini memliki kedalaman dibawah tanah lebih dari 2 meter. Pondasi sumuran ini dibuat dengan tehnik menggali tanah yang berbentuk bulat sampai ke kedalaman tanah yang keras, kemudian diisii dengan semen beton.
Sekian pembahasan tentang Pengertian Pondasi dan Jenis-jenis Pondasi yang mungkin dapat menambah pengetahuan Anda yang mudah-mudahan dapat membantu Anda membangunan tanah yang Anda jual atau yang telah Anda beli.

Mekanika Teknik Dasar


Pada dasarnya gaya merupakan suatu beban yang memiliki berat atau satuan. Berdasarkan bebannya gaya dibagi menjadi 2 yaitu:
  1. Beban Titik
    Beban titik merupakan gaya yang bekerja pada sebuah bidang atau tumpuan, dimana luas bidang yang terpengaruh atau dikenai relatif kecil.
    misalnya; kolom, tekanan kaki meja, roda mobil, dan lain-lain.
  2. Beban Terbagi Rata
    Beban terbagi rata merupakan gaya yang bekerja pada suatu struktur atau bidang, dimana luas permukaan beban dan bidang yang terpengaruh relatif luas.
    contoh; balok sloof, pondasi, plat, dan lainnya.
Tumpuan merupakan suatu penyangga atau penahan konstruksi sebagai sistem untuk menahan gaya-gaya luar yang bekerja pada konstruksi tersebut.
Reaksi merupakan gaya atau perlawanan yang diberikan oleh tumpuan akibat adanya gaya aksi.
Contoh Soal #1
Hitung besarnya reaksi dari tumpuan diatas:
· ∑MA = 0
-RB . 10m + P . 5m = 0
-RB . 10m + 10 ton . 5m = 0
-RB . 10m + 50tm = 0
-RB . 10m = -50tm
RB = 5ton
· ∑MB = 0
RA . 10m – P . 5m = 0
RA . 10m – 10 ton . 5m = 0
RA . 10m – 50tm = 0
RA . 10m = 50tm
RA = 5ton
Kontrol :
RA + RB = P
5 ton + 5 ton = 10 ton
10 ton = 10 ton……………….OK!
Misalnya contoh soal 2
Conto Soal #2
Hitunglah besarnya reaksi tumpuan A dan B?
Hitunglah besarnya reaksi tumpuan A dan B ?
∑H = 0
HA – P2. Cos 300 = 0
HA = P2 cos 300
HA = 1,5 . 0,866
HA = 1,299t
∑V = 0
= P1 + P2 sin 300
= 2t + 1,5 . 0,5
= 2,75 t
∑MA = 0
-RB . 8m + P1. sin 30 . 5m + P2 . 3m= 0
-RB . 8m + 1,5 t . 0,5 . 5m + 2t . 3m= 0
-RB . 8m + 3,75tm + 6tm= 0
-RB . 8m = -9,75tm
RB = 1,22ton
∑MB = 0
RA . 8m – P1 . 5m – P2. sin 30 . 3m = 0
RA . 8m – 2 t . 5m – 1,5t . 0,5 . 3m= 0
RA . 8m – 10tm – 2,25tm= 0
RA . 8m = 12,25tm
RA = 1,53ton
Kontrol : P1 + P2 . sin 300 = RA + RB
2t + 1,5 . 0,5 = 1,53 + 1,22
2,75 ton = 2,75 ton……………ok!

Teknik sungai

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Selama ini, permasalahan tentang sungai belum dianggap hal yang penting. Keberadaan sungai masih dianggap sebagai sebuah kontor alam. Sungai hanya dianggap sebagai tempat air untuk mengalir menuju tempat yang rendah. Padahal sungai memiliki peran yang sangat vital dalam menjaga keseimbangan lingkungan khususnya terhadap pengolahan air.
Sungai berperan mengaliri air dari satu tempat ketempat lain dan juga menjag pola air agar selalu tetap pada jalurnya. Dengan demikian, air tidak mengalir kesembarang tempat yang pada akhirnya bisa menyebabkan permasalahan bagi manusia dan mahkluk hidup lainnya.
Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya. Dengan melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang turun di daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan kepada saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan. Penghujung sungai di mana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai.
Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum walaupun sebenarnya seiring perkembangan jaman peran sungai mulai sedikit bergeser. Manusia mulai mampu menemukan teknologi yang mampu memberikan kemudahan bagi mereka untuk medapatkan air, sungai sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan objek wisata sungai.
Dibeberapa daerah atau negara sungai menjadi salah satu bagian dari sarana transportasi yang membantu kegiatan manusia. Selain dari itu sungai juga banyak dimanfaatkan sebagia tenaga pembangkit listrik. Tentunya hanya beberpa  sungai yang bisa dimanfaatkan untuk ini, inipun ditinjau dari letak yang strategis dan memenuhi syarat untuk transportasi air atau pembangkit listrik, beberapa tinjauan tersebut antara lain morfologi sungai, hidrolika sungai, hidrologi sungai maupun karakteristik sungai.
Sungai juga merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan, embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan es/salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan.
 selain keuntungan dan manfaat sungai yang tersebut di atas sungai juga mempunyai masalah dan justru bisa menimbulkan banyak masalah. Masalah sungai Antara lain pencemaran sungai, Erosi sungai, dan sedimentasi sungai. Masalah yang bisa ditimbulkan sungai antara lain Terganggunya kehidupan organisme air karena berkurangnya kandungan oksigeTerjadinya ledakan populasi ganggang dan tumbuhan air (eutrofikasi). Pendangkalan dasar perairanPunahnya biota air, misal ikan, yuyu, udang, dan serangga airMunculnya banjir akibat salura air tersumbat sampahMenjalarnya wabah muntaber dan masih banyak lagi.
Dikawasan perkotaan, kebutuhan tempat tinggal menjadi sebuah hal yang sulit didapatkan, selain karena harga tanah yang mahal, ketersediaan lahan juga menjadi hal tersendiri disisi lain manusia dituntut untuk memiliki tempat tinggal.
Plihan yang banyak dilakukan adalah mendirikan bangunan dikawasan bantaran sungai. Hal ini dilakukan juga karena kawasan tersebut bebas dari kewajiban untuk membeli serta dianggap mudah dalam proses pendirian bangunan.
Padahal, mendirikan bangunan di bantaran sungai memiliki resiko yang sangat besar. Selain menyebabkan aliran sungai menjadi sempit, juga akan menimbulkan ancaman ketika air sungai meluap. Dari sisi estetika, keberadaan hunian dibantaran sungai cendrung menyebabkan pandanga kurang enak, karena hunian di bantaran sungai identik dengan kekumuhan dan nuansa kurang sehat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka untuk membatasi permasalahan yang akan dibahas, disusun rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa itu karakteristik sungai,  morfologi sungai, hidrolika sungai dan hidrologi sungai?
2.      Apa saja yang bisa menimbulkan masalah sungai?
3.      Bagaimana proses permasalahan sungai?
4.      Dampak dari masalah sungai?
5.      Bagaimana mengatasi masalah sungai?
C. Maksud dan Tujuan
Maksud dari penulisan makalah ini adalah salah satu persyaratan untuk memenuhi mata kuliah Rekayasa Sungai dan melakuk studi mengenai Sungai dan Masalah sungai yang antara lain pembahasan dalam makalh ini :
1.      Untuk mengetahui dan mengenal lebih dekat tentang sungai mulai dari karakteristik sungai, morfologi sungai, hidrolika sungai hingga hidrologi sungai.
2.      Mengenal berbagi macam yg menimbulkan masalah sungai serta bagaimana mengatsi dan dampak dari masalah sungai.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sungai
1Karakteristik Sungai
sungai didefenisikan antara lain :
·         Sungai adalah sistem pengairan air dari mulai mata air sampai ke muara dengan dibatasi kanan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh sempadan sungai (Sudaryoko,1986).Sungai adalah fitur alami dan integritas ekologis, yang berguna bagi ketahanan hidup (Brierly, 2005).
·         Menurut Dinas PU, sungai sebagai salah satu sumber air mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat. sedangkan PP No. 35 Tahun 1991 tentang sungai, Sungai merupakan tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan.
·      Sungai adalah bagian permukaan bumi yang letaknya lebih rendah dari tanah disekitarnya dan menjadi tempat mengalirnya air tawar menuju ke laut, danau, rawa, atau ke sungai yang lain(Hamzah, 2009).
Sungai dibedakana menurut jumlah airnya yaitu sebagai berikut :
  • Sungai permanen - yaitu sungai yang debit airnya sepanjang tahun relatif tetap. Contoh sungai jenis ini adalah sungai Kapuas, Kahayan, Barito dan Mahakam di Kalimantan. Sungai Musi dan Indragiri di Sumatera.
  • Sungai periodik - yaitu sungai yang pada waktu musim hujan airnya banyak, sedangkan pada musim kemarau airnya sedikit. Contoh sungai jenis ini banyak terdapat di pulau Jawa misalnya sungai Bengawan Solo, dan sungai Opak di Jawa Tengah. Sungai Progo dan sungai Code di Daerah Istimewa Yogyakarta serta sungai Brantas di Jawa Timur.
  • Sungai intermittent atau sungai episodik - yaitu sungai yang mengalirkan airnya pada musim penghujan, sedangkan pada musim kemarau airnya kering. Contoh sungai jenis ini adalah sungai Kalada di pulau Sumba dan sungai Batanghari di Sumatera
  • Sungai ephemeral - yaitu sungai yang ada airnya hanya pada saat musim hujan. Pada hakekatnya sungai jenis ini hampir sama dengan jenis episodik, hanya saja pada musim hujan sungai jenis ini airnya belum tentu banyak.
Sungai menurut genetiknya dibedakan :
  • Sungai konsekwen yaitu sungai yang arah alirannya searah dengan kemiringan lereng.
  • Sungai subsekwen yaitu sungai yang aliran airnya tegak lurus dengan sungai konsekwen
  • Sungai obsekwen yaitu anak sungai subsekwen yang alirannya berlawanan arah dengan sungai konsekwen
  • Sungai insekwen yaitu sungai yang alirannya tidak teratur atau terikat oleh lereng daratan
  • Sungai resekwen yaitu anak sungai subsekwen yang alirannya searah dengan sungai konsekwen
  • Sungai andesen yaitu sungai yang kekuatan erosi ke dalamnya mampu mengimbangi pengangkatan
Sungai berdasarkan sumber airnya :
  • Sungai hujan yaitu sungai yang berasal dari air hujan, sungai ini banyak dijumpai di Pulau jawa dan kawasan Nusa Tenggara
  • Sungai gletser yaitu sungai yang berasal dari melelehnya es, sungai ini banyak dijumpai di negara yang beriklim dingin seperti sungai gangga di India dan sungai phein di jerman
  • Sungai campuran yaitu sungai yang berasal dari air hujan dan lelehan es, dapat dijumpai di Papua contohnya Sungai Digul dan sungai Memberano.
2. Hidrolika Sungai
Jenis jenis aliran di Sungai :
  • Sungai adalah salah satu jenis saluran terbuka yang terbentuk secara alamiah oleh proses jutaan tahun.
  • Aliran-aliran yang terjadi di sungai, adalah aliran-aliran yang mengikuti kondisi atau kaidah-kaidah aliran saluran terbuka (open channel flow).
  • Aliran di sungai merupakan aliran saluran terbuka alami yang merupakan gambaran aliran riil di lapangan.
  • Beragam variabel yang akan mempengaruhi dalam kita menganalisis aliran di sungai, seperti geometri sungai, morfologi sungai, kekasaran saluran, dll.
Aliran adalah kondisi dimana berpindah tempatnya suatu fluida (zat cair dan gas) dari satu tempat ketempat lain akibat pengaruh gravitasi maupun pengaruh beda tekanan. Dalam aliran ini dimungkinkan terjadinya perubahan bentuk, volume maupun massa zat tersebut.Intinya, pada aliran terjadi pergerakan partikel-partikel fluida.
Aliran fluida dapat terbagi atas:
  1. Aliran akibat sifat-sifatnya, yaitu aliran akibat kekentalan (viskositas) dan angka Froude
  2. Aliran akibat parameter waktu dan tempat, yaitu aliran seragam (uniform) danaliran mantap (steady).
  3. Aliran berdasarkan wadah mengalirnya, yaitu aliran pipa dan aliran saluran terbuka.
  4. Aliran berdasarkan penyebab gerak, yaitu aliran bertekanan dan aliran gravitasi.
Aliran akibat kekentalan atau viskositas :
Aliran akibat kekentalan atau viskositas adalah aliran yang terjadi dengan melihat kekntalan aliran tersebut yang gambarkan melalui angka Reynols-nya.
  • Aliran Laminer, adalah aliran dengan angka Reynolds (Re) di bawah 500-2000. Biasanya dicirikan dengan lintasan partikel fluida yang mengalir lurus.
  • Aliran Turbulen, adalah alirandengan angka Reynolds (Re) berada di antara dengan angka Reynolds (Re) di atas 4000. Biasanya dicirikan dengan lintasan partikel fluida yang mulai terganggu.
  • Aliran Transisi, adalah aliran 2000-4000. Dicirikan dengan lintasan partikel fluida yang sangat terganggu/acak.

3. Morfologi Sungai
Morfologi sungai adalah ilmu yang mempelajari tentang:
  • Geometri (bentuk) sungai, dan
·         Perilaku sungai dengan segala aspek pembahasannya dalam dimensi ruang dan waktu
Morfologi sungai sangat menyangkut sifat dinamik sungai dan lingkungannya yang saling berkaitan. Sifat-sifat sungai ini sangat dipengaruhi oleh luas dan bentuk DAS serta kemiringan sungai. Secara umum dapat dikatan bahwa studi mengenai morfologi sungai adalah untuk mencoba menguraikan mengenai tipe-tipe raut muka (typical features) dari sungai-sungai tersebut.
Pembentukan raur muka (typical features) sungai ini, dibentuk oleh tiga dimensi yaitu:
·         Pengaruh waktu
·         Pergerakan air / aliran air yang membawa endapan (sediment) maupun puing-puing (debris atau ruins)
·         Pengaruh fenomena alam (banjir, longsoran, letusan gunung api, gempa dll)
Bentuk sungai, akibat aliran yang terjadi, terbagi atas alur:
·         Sungai lurus
·         Sungai berkelok (meander)
·         Sungai terburai (braided)
·         Sungai berpotongan (anastomosing)
                 Bentuk dasar sungai, akibat topografi DAS-nya, terbagi atas:
·         Sungai curam (steep)
·         Sungai landai (mild)
·         Sungai datar (flat)
4. Hidrologi Sungai
Beberapa pengertian pengertia tentang Hidrologi :
·         Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari masalah air
·         Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tentang seluk beluk proses kejadian, distribusi dan besaran air, serta interaksi dan pengaruhnya terhadap kehidupan dan lingkungan (Chow.V.T, 1964).
·          Hidrologi Teknik,  adalah mencakup pada bagian ilmu hidrologi itu sendiri dalam penerapannya untuk perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan proyek-proyek teknik bagi pengaturan dan pemanfaatan air bagi kebutuhan manusia
                              Siklus Hidrologi adalah suatu proses yang berlangsung secara terus menerus mengenai keberadaan air yang ada di muka bumi, namun mekanisme yang terjadi didalamnya tidak berlangsung secara terus menerus, karena proses didalamnya tergantung pada kondisi suatu geografi suatu wilayah dan waktu.
Proses-proses siklus hidrologi  (siklus kecil) adalah:
  1. Evaporasi, yaitu penguapan air permukaan (di laut, danau atau sungai) dan Transpirasi, yaitu penguapan dari tumbuhan.
  2. Kondensasi (perubahan / penumpukan awan)
  3. Presipitasi (hujan)
Proses-proses siklus hidrologi  (siklus besar) adalah:
  1. Evaporasi, yaitu penguapan air permukaan (di laut, danau atau sungai) dan Transpirasi, yaitu penguapan dari tumbuhan.
  2. Kondensasi (perubahan / penumpukan awan)
  3. Presipitasi (hujan)
  4. Limpasan permukaan (surface run off)
  5. Infiltrasi
  6. Perkolasi
  7. Aliran air tanah (ground water flow)




B. MASALAH SUNGAI
1. Pencemaran Sungai
Pencemaran sungai adalah tercemarnya air sungai yang disebabkan oleh limbah industri, limbah penduduk, limbah peternakan, bahan kimia dan unsur hara yang terdapat dalam air serta gangguan kimia dan fisika yang dapat mengganggu kesehatan manusia.
Dampak pencemaran sungai
Pencemaran air dapat berdampak sangat luas, misalnya dapat meracuni air minum, meracuni makanan hewan, menjadi penyebab ketidak seimbangan ekosistem sungai dan danau, pengrusakan hutan akibat hujan asam dsb.

2.  Erosi
Erosi adalah suatu perubahan bentuk batuan, tanah atau lumpur yang disebabkan oleh kekuatan air, angin, es, pengaruh gaya berat dan organisme hidup. Angin yang berhembus kencang terus-menerus dapat mengikis batuan di dinding-dinding lembah.Erosi merupakan proses alam yang terjadi di banyak lokasi yang biasanya semakin diperparah oleh ulah manusia. Proses alam yang menyebabkan terjadinya erosi merupakan karena faktor curah hujan, tekstur tanah, tingkat kemiringan dan tutupan tanah. Intensitas curah hujan yang tinggi di suatu lokasi yang tekstur tanahnya merupakan sedimen, misalnya pasir serta letak tanahnya juga agak curam menimbulkan tingkat erosi yang tinggi. Selain faktor curah hujan, tekstur tanah dan kemiringannya, tutupan tanah juga mempengaruhi tingkat erosi. Tanah yang gundul tanpa ada tanaman pohon atau rumput akan rawan terhadap erosi. Erosi juga dapat disebabkan oleh angin, air laut dan es.
3.  pendangkalan atau sedimentasi
Secara umum, pendangkalan sungai dapat terjadi karena adanya pengendapan partikel padatan yang terbawa oleh arus sungai, seperti di kelokan sungai (meander), waduk atau dam, ataupun muara sungai. Partikel ini bisa berupa padatan besar, seperti sampah, ranting, dan lainnya. Namun, sumber utama partikel ini biasanya berupa partikel tanah sebagai akibat dari erosi yang berlebihan di daerah hulu sungai. Air hujan akan membawa dan menggerus tanah subur di permukaan dan melarutkannya yang kemudian akan terbawa ke sungai. Proses transportasi partikel semacam ini disebut sebagai suspensi. Hasil partikel yang terbawa ini biasanya akan berupa lumpur tanah dan kemudian tersedimentasi di dasar sungai.


TRIMAKASIH TELAH MENGUNJUNGI INI...






Daftara pustaka
frengkiasharia.files.wordpress.com
kutukikuk.blogspot.com...permasalahan-sungai.html‎
Bimbie.com.htm/ilmu pengetahuan/geografi/sungai
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.html
Tanjung Panduwijayan  Definisi, Permasalahan dan Karakteristik Sungai di Indonesia.htm